drag race

Tips
Untuk Drag Race : Pilih Mio Atau Satria FU
March 2, 2010
Untuk Drag Race : Pilih Mio Atau Satria FU

Redaksi GILA yang makin GILA MOTOR tolong dunk, saya punya motor Satria FU, Jupiter Z dan Mio, menurut GILAkers, yang paling garang dibuat drag apaan and budget 5 juta bisa buat apa aja klo kurang brapa thanx\’z

Salam
Zian MX

Salam GilaMotor.
Ok Bro Zian. Dari ketiga motor ini, motor mana yang cocok untuk drag sesuai biaya yang tersedia, mari kita jabarkan kebutuhan dari masing-masing motor. Dan tentunya akan berimbas pada dana yang dikeluarkan.

Kalau danannya hanya sekitar 5 jutaan, lebih baik jatuhkan pilihan pada motor Yamaha Mio. Pasalnya untuk mengejar budget yang lebih murah, Mio rasanya paling pas untuk merubah setingannya dengan dana tersebut. Lagi pula, sekarang motor matik makin banyak yang turun dalam ajang drag race.

Dengan Yamaha Mio, Anda tak perlu pusing untuk membeli gear ratio yang harganya lumayan mahal. jadi tinggal mengandalkan pada peningkatan stroke/langkah dan bore up. Untuk kedua hal ini, kisaran dana yang dibutuhkan sekitar 3 jutaan.

Ada lagi nih Bro. Selain dua hal tadi, uang yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk merubah Noken as sesuai kebutuhan, apakah untuk 201 m atau 402 m. Terus piranti pengapian dan perangkat CVT tak ketinggalan kudu dirubah untuk menyesuaikan kebutuhan rubahan. Yang lainya tergantung pada keahlian sang mekanik memanfatkan part yang ada. Dengan biaya 5 juta rasanya itu cukup.

Untuk Satria FU, biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih mahal dari Yamaha Mio. Dan itu bisa mencapai dua kali lipatnya. Pasalnya harga part Suzuki Satria Fu sendiri sudah lumayan mahal.

Beberapa part yang harus dirubah dan butuh biaya yang lumayan seperti Noken as. Part yang satu ini pastinya harus dirubah. Lantas Piston, Naikan Langkah/stroke, Bore up, close ratio, final gear dan pengapian sesuai kebutuhan anda. Tentunya dengan berkonsultasi lebih jauh dengan mekanik anda. Dengan rubahan ini saja, biaya yang harus dikeluarkan sekitar 9 jutaan.

Untuk pengembangan yang lebih untuk mengoprek motor ini, tinggal bagaimana keahlian mekanik anda merubah tunggangan anda menjadi lebih sangar. Karena biasanya mekanik banyak menggunakan feeling nya untuk mendapatkan setingan yang tepat

Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

sejarah islam

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.


Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar)



www.ummah.com Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Synyster Gates

Synyster Gates
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman initampilkan/sembunyikan detail
Ini adalah versi stabil, diperiksa pada tanggal 19 November 2010. Ada 9 perubahan tertunda menunggu peninjauan.

Synyster Gates
Latar belakang
Dilahirkan dengan nama Brian Elwin Haner, Jr.
Dikenal juga sebagai Synyster Gates, Syn
Genre Metalcore, Hard rock, Post-hardcore, Heavy metal, Alternative rock
Pekerjaan Musisi, Penulis lagu
Instrumen Gitar, Piano, Organ, Keyboards
Tahun aktif 2000–saat ini
Label Goodlife, Hopeless, Warner Bros. Records
Dipengaruhi oleh Avenged Sevenfold, Pinkly Smooth, Good Charlotte
Instrumen khusus
Schecter Synyster Custom Electric Guitar

Brian Elwin Haner, Jr. (lahir di Huntington Beach, California, Amerika Serikat, 7 Juli 1981; umur 29 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Synyster Gates adalah seorang musisi dan gitaris untuk grup musik Avenged Sevenfold.
Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

arema ongisnade

Tim Merah Putih membuka skor lewat Yongki Aribowo menit ke-25. Lima menit berselang bunuh diri pemain lawan menambah keunggulan Indonesia. Gol Titus Bonai menit ke-67 dan Arif Alfiansyah sepuluh menit menuju bubaran memastikan kemenangan Indonesia



Kecuali pemain yang tengah mengalami cedera dan Ruben Wuarbanaran yang belum berpaspor Indonesia, pelatih Riedl menurunkan semua pemain yang diboyong Ke Hong Kong. Dalam pertandingan ini, kedua kesebelasan memang tidak dibatasi dalam melakukan pergantian pemain.

“Permainan timnas makin meningkat. Koordinasi antar pemain juga semakin bagus. Tinggal masalah fisik dan cedera pemain saja yang menjadi kendala,” kata pelatih berpaspor Austria itu seperti dikutip dari situs resmi PSSI.

Meksi baru pertama bertanding di lapangan sintetis, penampilan Yongki Aribowo dkk memang lebih baik dibandingkan dengan ketika ditahan imbang 1-1 oleh Pelita Jaya U21. Mereka juga tampil lebih bersemangat dengan dukungan masyarakat Indonesia yang berada di Hong Kong.

“Atmosfer di sini cukup bagus. Pemain senang tampil di lapangan yang bagus dan cuaca pun cukup bersahabat. Kami ucapkan terima kasih juga kepada Bapak Teguh Wardoyo, Konjen RI yang turut menyaksikan pertandingan ini dengan membawa supporter Indonesia,” ujar Iman Arif, manajer sementara yang memimpin Timnas Pra Olimpiade.

Rombongan Timnas Pra Olimpiade dijadwalkan kembali ke tanah air, Kamis (10/2) pagi. Sebelum melanjutkan latihan, para pemain akan mendapatkan kesempatan libur selama dua hari.

Starting Line-Up Indonesia

Penjaga Gawang: Kurnia Meiga
Belakang: Ahmad Farisi, Gunawan Dwi Cahyo, Septi Hadi, Safri Umri
Tengah: David Laly, Hendro Siswanto, Titus Bonai, Engelbert Sani
Depan: Fauzi, Yongki Aribowo.

www.ongisnade.co.id

Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Rev

The Rev

James Owen Sullivan (February 9, 1981 – December 28, 2009),[1] or The Reverend Tholomew Plague, often shortened to The Rev, was an American musician, best known as the drummer for the American heavy metal band Avenged Sevenfold. He was also the lead vocalist in Pinkly Smooth, a side project where he was known by the name Rat Head, with fellow Avenged Sevenfold member, guitarist Synyster Gates. Sullivan grew up and lived in Huntington Beach, California. The Rev was found dead on December 28, 2009, at the age of 28.Career
The Rev obtained his first pair of drum sticks at the age of four and received his own drum set at the age of eleven.[3] In high school, he started playing in bands. Before leaving to join Avenged Sevenfold as one of the band's founding members, Sullivan was the drummer for the third wave ska band Suburban Legends. At the age of eighteen he recorded his first album with Avenged Sevenfold titled Sounding the Seventh Trumpet. His early influences included Frank Zappa and King Crimson. The Rev admitted in a Modern Drummer Magazine interview that "I was raised on that stuff as much as rock and metal."[3]

Later in life he was influenced by drummers Vinnie Paul, Mike Portnoy, Dave Lombardo, Lars Ulrich, and Terry Bozzio.[4] He even had a "visual influence", Tommy Lee, on which he commented that "I never thought I'd have one of those."[3] Sullivan's signature ability which he called "the double-ride thing, just for lack of a better definition, because no one does it,"[5] is a technique that can be heard on tracks such as "Almost Easy", "Critical Acclaim", and "Crossroads" in which Sullivan doubles up at a fast tempo between the double bass and ride cymbals.

The band won the MTV Music Award for Best New Artist in 2006[1], beating out Rihanna, Panic! at the Disco, Angels & Airwaves, James Blunt and Chris Brown, where The Rev gave his acceptance speech.

The Rev was also a vocalist, songwriter, and pianist for Avenged Sevenfold. His piano-playing can be heard on the tracks "Warmness on the Soul", "Seize The Day", "Fiction" and "Save Me". His vocals are featured in Avenged Sevenfold's "A Little Piece of Heaven", "Brompton Cocktail", "Critical Acclaim", "Crossroads", "Gunslinger", "Lost", "Scream", "Afterlife", and "Fiction". He used his knowledge of the guitar and piano to write the songs "Almost Easy", "A Little Piece of Heaven", "Afterlife", "Brompton Cocktail", "Welcome to the Family", "Save Me", and "Fiction". He also contributed to the making of "Critical Acclaim" and "Lost".[citation needed]

Avenged Sevenfold also announced that they will be releasing a demo version of "Nightmare" including The Rev on an electric drumset and his vocals.

At the second annual Revolver Golden God Awards, The Rev won the award for Best Drummer beating out Chris Adler of Lamb of God, Brann Dailor of Mastodon, Dave Grohl of Them Crooked Vultures and Dave Lombardo of Slayer. The award was presented by Joey Jordison of Slipknot and Vinnie Paul of Pantera, with the latter winning the award the previous year. His family members and Avenged Sevenfold received the honour on his behalf.[6]
Death

Sullivan's body was found in his home on December 28, 2009 at the age of 28.[1] His death was reported as due to natural causes. The results of the autopsy performed on December 30, 2009, however, were inconclusive.[1] On June 9, 2010, the cause of death was revealed to have been an acute polydrug intoxication due to combined effects of oxycodone (OxyContin), oxymorphone (a metabolite of oxycodone), diazepam (Valium), nordiazepam (a metabolite of diazepam) and alcohol.[7]

On January 5, 2010, a private funeral was held for Sullivan,[8] and a day later he was buried in Huntington Beach, California.[9]
Discography
With Suburban Legends

* Origin Edition (1999)

With Pinkly Smooth

* Unfortunate Snort (2001)

With Avenged Sevenfold

* 1999 Demo (1999)
* 2000 Demo (2000)
* Sounding the Seventh Trumpet (2001)
* Warmness on the Soul (2001)
* Waking the Fallen (2003)
* City of Evil (2005)
* All Excess (2007)
* Avenged Sevenfold (2007)
* Live in the LBC & Diamonds in the Rough (2008)
* Nightmare (2010) (Posthumous)
Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LPI

LIGA PRIMER INDONESIA (LPI)

Kamis, 11-11-2010 06:00
Manajemen PSPS Pekanbaru Pecah Karena Sikapi LPI


Manajemen PSPS Pekanbaru terpecah menjadi dua kubu dalam hal menyikapi keinginan klub itu berpartisipasi dalam Liga Primer Indonesia (LPI) yang bakal digulirkan Januari 2011.



Rabu, 10-11-2010 21:15
Indo Holland Kalahkan Surabaya FC Dalam Laga Amal LPI


Tim Indo Holland berhasil mengalahkan Surabaya FC 2-1 dalam pertandingan amal "Untuk Indonesiaku" di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, Rabu malam.

Rabu, 10-11-2010 19:15
Persema Siap Gelar Laga Amal LPI


Persema Malang siap menggelar laga amal melawan tim keturunan Indonesia Belanda (Indo-Belanda) yang akan digelar di Stadion Gajayana, Jumat (12/11), kata Manajer Persema, Asmuri, Rabu.

Rabu, 10-11-2010 14:08
Laga Amal Persebaya Diamankan Seribu Polisi


Baca Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS